Namun kata ganti orang pertama jamak (نحن) atau KAMI yang merujuk pada dua atau lebih,pasti di logikakan bukan mewakili zat-Nya yang esa.
Penjelasan ini tentu harus merujuk pada kaidah umum gramatika bahasa Arab. Nah Lalu bagaimana cara untuk memahami fenomena penggunaan kata ganti نحن (kami) atau plural untuk Allah?
Jawabannya Tentu saja semua kata ganti orang pertama jamak (نحن) untuk DZAT Allah ini tidak boleh dipahami secara literal , karena akan bertentangan dengan hukum aqal dan nash Agama
Sebagai contoh kita dapat menemukan kata نحن pada ayat
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya :"Sungguh, Kami menurunkan Al-Quran. Kami juga penjaganya" ada juga “Nahnu narzuqukum” Kami memberimu rezeki"
Baca juga : maksud dan makna Al-Qur'an di turnkan dengan 7 hurup
Ulama menjelaskan untuk penggunaan kata (نحن) pada Dzat Allah yaitu sebagai bentuk pengagungan diri للتعظيم bukan menunjukan bilangan karena jelas jika merujuk pada bilangan maka bertentangan dengan surat Al-Ikhlas yang berbunyi :
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
“Katakanlah; Dialah Allah Yang Maha Esa“
(QS Al-Ikhlas/112: 1)
Dan juga bisa dilihat ketika para ulama menjelaskan dalam Qs Al-Baqarah:34
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika [Kami berfirman kepada para malaikat ]: "Sujudlah kamu kepada Adam,"
وقال" قُلْنا" ولم يقلْ قلت لان الجبار العظيم يخبر عن نفسه بفعلِ الجماعةِ تفخيما وإشادة بذكرهِ
Kalimat ‘KAMI KATAKAN’, bukan ‘AKU KATAKAN’ digunakan karena Allah membahasakan dirinya dengan kata jamak sebagai bentuk pengagungan dan penyanjungan dzat Nya”
( Al-Jami‘ li Ahkamil Qur‘an, Mu’assasatur Risalah, juz I, halaman 433 karya Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurthubi)
Begitu juga penjelasan serupa dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam menjelaskan ayat dan surat yang sama mengatakan :
وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع
Kalimat ‘KETIKA KAMI KATAKAN’ digunakan dengan kata jamak yaitu sebagai bentuk ta'dzim,”
(At-Tafsirul Munir fil Aqidah was Syari‘ah wal Manhaj)
Penggunaan kata نحن juga bisa dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Seperti yang dibahas oleh Syekh Sulaiman Jamal bin Umar dalam syarahnya atas Tafsir Jalalain waktu menjelaskan QS yang sama yang mengatakan :
وهو من خطاب الأكابر والعظماء فأخبر الله تعالى عن نفسه بصيغةِ الجمعِ لأَنه ملك الملوكِ اهـ كرخي
Artinya, “Kata ‘Ketika Kami katakan’ merupakan perintah dari Allah sebagai zat Yang Maha Kuasa. Allah memakai kata نحن untuk diri-Nya sendiri sebab Dia penguasa mutlak atas segala penguasa,”
(Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah juz I, halaman 67).
Dari berbagai keterangan ulama di atas, kita bisa dengan jelas memahami bahwa kata نحن untuk Allah, bukan merujuk pada zat yang plural dengan makna hakiki.
Kata ganti نحن untuk Allah di fahami dengan makna majazi yang bermaksud untuk menunjukkan kuasa atau membesarkan dzat-Nya. Dari sinilah kemudian ahli gramatika bahasa Arab (kaidah Nahwu) memaknai kata نحن yang merujuk pada satu person sebagai lil mu‘adzhim nafsah yaitu untuk pengagungan diri sendiri , di samping makna hakiki lil mutakallim ma‘al ghair yaitu kata ganti orang pertama jamak
semoga menambah wawasan

Tidak ada komentar
Posting Komentar